Mengajarkan Kebaikan pada Anak
Banyak orang tua ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang penuh empati, rasa ingin tahu, percaya diri, cerdas, siap menghadapi dunia, dan, yang terpenting, baik hati. Artikel ini menyajikan tiga cara sederhana yang bisa diterapkan sehari-hari untuk menumbuhkan kebaikan pada anak.
Banyak keluarga menginginkan anak yang utuh, yang selain cerdas juga ramah dan peduli. Ketika kita menelaah arti anak yang "well-rounded", ada beberapa hal yang sering muncul: empati, rasa ingin tahu, percaya diri, kecerdasan, kesiapan, dan yang paling penting, kebaikan. Lalu, bagaimana cara membantu anak belajar bersikap baik, terutama ketika dunia kadang terasa tidak ramah?
Mencontoh perilaku
Menjadi contoh kebaikan dalam keseharian adalah cara paling efektif. Anak-anak suka meniru, jadi saat orang tua bertindak ramah dan peka, anak cenderung mengikuti. Beri pujian ketika anak menunjukkan perilaku baik dan jelaskan mengapa tindakan itu menyenangkan atau membantu orang lain. Dengan pengulangan, sikap baik akan menjadi kebiasaan.
Ketika Anda melihat orang lain berbuat baik, ceritakan pada anak. Misalnya, katakan, "Itu sangat baik dari Jabari karena ia membagikan camilannya padamu di sekolah." Mendengar pujian yang Anda berikan pada orang lain membuat anak ingin meniru perilaku serupa.
Jika anak bersikap tidak ramah, gunakan momen itu untuk belajar. Bantu anak memahami perasaan orang lain, ajak bicara tentang apa yang bisa dilakukan berbeda di lain kesempatan, lalu bantu anak meminta maaf.
Melibatkan anak dalam tindakan kebaikan bersama juga membantu mereka merasakan langsung dampaknya. Contohnya, menyumbangkan barang ke bank makanan setempat, membuat kartu untuk para pekerja komunitas, atau ikut serta dalam kegiatan amal.
Bermain peran dan permainan
Memberi ruang bagi anak untuk bermain bebas sering menimbulkan adegan yang meniru kehidupan sehari-hari. Dari situ, Anda bisa masuk untuk menuntun skenario menuju sikap saling menghormati. Misalnya, ketika satu boneka memberikan mainan pada boneka lain, tunjukkan ucapan terima kasih yang sopan. Jika anak membuat skenario di mana satu mobil balap dilarang bermain dengan yang lain, tetaplah dalam dunia pura-pura dan arahkan mereka menemukan solusi agar semua bisa ikut bermain.
Permainan juga mengajarkan bergiliran dan sportivitas. Pilih permainan yang menuntut kerja sama agar anak belajar kolaborasi, misalnya lomba estafet, permainan papan, atau perburuan harta keluarga. Aktivitas seperti ini membantu anak mempraktikkan kesabaran, giliran, dan bekerja sama untuk tujuan bersama.
Bercerita
Membacakan kisah yang menampilkan pilihan perilaku memberi kesempatan untuk berdiskusi tentang akibat tindakan baik dan kurang baik. Anak belajar lewat cerita karena mereka mengaitkan diri dengan tokoh dan alur cerita. Saat membaca, ajak anak berpikir tentang bagaimana perasaan tokoh dan apa yang bisa dilakukan berbeda.
If You Plant a Seed: Kadir Nelson
I Walk with Vanessa: Kerascoet
Invisible Boy: Trudy Ludwig dan Patrice Barton
The Kindness Quilt: Nancy Elizabeth Wallace
Possum’s Harvest Moon: Anne Hunter
Anda juga bisa berbagi cerita masa kecil Anda. Seiring bertambahnya usia, anak biasanya menyukai kisah tentang pengalaman Anda waktu kecil, baik yang menyenangkan maupun yang menantang. Gunakan pengalaman itu sebagai bahan ajar untuk menunjukkan pelajaran hidup, termasuk mengapa menjadi baik itu menyenangkan dan penting.